Kisah Dua Mata Uang di Rumania

Analisis, Keuangan

Rumania pernah menggunakan mata uang ganda, lei lama dan lei baru selama 1,5 tahun.

Uang Rumania, lei baru dan lei lama (Wikipedia)

Jumat 1 Juli 2005, bank sentral  Rumania memperkenalkan lembaran uang baru, 100 lei. Uang ini sangat mirip dengan uang lembaran tertinggi negeri itu, 1 juta lei. Semua gambar, warna, hingga tulisan sama. Kecuali angka dan keterangan nominal.

Anda jangan berpikir bagaimana bila uang itu tertukar. Sebab, meski selisih nominal mencapai seper sepuluh ribu, kedua mata uang itu memiliki nilai sama. Itulah yang dilakukan Rumania mengawali redenominasi mata uangnya.

Sejak saat itu Rumania memperkenalkan mata uang lei baru dengan kode RON, yang setiap lei baru akan menggantikan 10 ribu lei lama (ROL). Kode RON dan ROL seperti mata uang rupiah dengan sebutan IDR.

Penggunaan dua mata uang ini dilakukan Rumania selama satu setengah tahun, atau berakhir hingga 31 Desember 2006. Setelah tanggal itu, semua mata uang lei lama ditarik. Meski demikian, lei lama masih bisa ditukar ke bank tanpa batas waktu.

Gubernur Bank Nasional Rumania, Mugur Isarescu terpaksa memotong lei karena inflasi di negera itu sangat tinggi. Selain itu, langkah ini juga sebagai tanda berakhirnya kekuasaan ekonomi komunis menjadi ekonomi liberal.

Mugur terinspirasi Turki yang sukses memotong enam digit pada nominal mata uangnya. Saat itu 1 juta lira sama dengan 1 lira uang baru. Tapi tak tanggung-tanggung, Turki menyiapkan kebijakan ini sampai 10 tahun.

Setelah redenominasi itu, nilai tukar mata uang Rumania terhadap dolar AS menjadi 2,98 lei dan terhadap euro menjadi 3,6 lei, jauh lebih kuat dari sebelum redenominasi. Pada 30 Juni 2005, nilai tukar mereka terhadap dolar sebesar 29,891 lei dan terhadap euro hanya 36,050 lei.

Pengenalan lei baru dinilai sebagai terobosan yang menguntungkan pemerintahan Rumania. Redenominasi telah membuat mata uang Rumania lebih sesuai dengan nilai mata uang utama global, seperti euro dan dolar AS. Apalagi Rumania berniat bergabung menggunakan euro, setelah masuk Uni Eropa pada 2007.

Kecemasan merebak luas bahwa lei baru akan mendorong inflasi tinggi. Sebab lei baru berisiko membuat pedagang melakukan pembulatan harga, mirip dengan apa yang terjadi ketika euro diperkenalkan di zona Eropa pada 2002.

Namun, kenaikan harga bisa dijaga karena tampilan dua mata uang. Pemerintah Rumania memastikan bahwa semua barang-barang menampilkan dua harga, baik dalam lei baru maupun lei lama hingga akhir 2006. Karenanya pedagang tidak bisa menaikkan harga sembarangan.

Di Indonesia, wacana penyederhanaan mata uang rupiah atau redenominasi dilontarkan Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution. Menurut dia, bank sentral merasa perlu melakukan redenominasi karena pecahan  Rp100 ribu menjadi pecahan terbesar kedua di dunia, setelah dong Vietnam yang memiliki pecahan 500 ribu. (Wikipedia)

SUMBER

Analis: Rupiah Seperti Mata Uang Sampah Dunia

Analisis, Bisnis, Keuangan

Kurs rupiah (Antara)

Anda bisa membayangkan sebutan apa yang tepat untuk angka Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang sebesar Rp1.000.000.000.000.000. Apakah seribu triliun rupiah, atau satu kuadriliun?

Tapi sepertinya di Indonesia kata kuadriliun tidak pernah dipakai. Pejabat maupun masyarakat lebih sering menyebut seribu triliun, meski penyebutan ini tidak sesuai kaidah.

Analis valuta asing Farial Anwar mengatakan bahwa rupiah saat ini sudah terlalu besar. Karena itu, wacana penyederhanaan nominal rupiah atau redenominasi yang dilontarkan Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution dinilai positif.

Farial mengatakan, bila nominal rupiah telah dipotong diharapkan penyebutan yang seperti itu tidak menjadi masalah. APBN Indonesia hanya berkisar triliunan rupiah saja.

“Saat ini rupiah sudah seperti mata uang ‘sampah’  karena pecahannya sudah terlalu besar,” kata Farial saat berbincang dengan VIVAnews, Kamis 5 Agustus 2010.

Bayangkan, uang pecahan  terbesar Indonesia yakni Rp100 ribu merupakan uang pecahan terbesar kedua di dunia, setelah dong Vietnam yang memiliki pecahan 500 ribu. Posisi ini tidak memperhitungkan dolar Zimbabwe, yang pernah mencetak lembaran 100 miliar.

Selain susah dalam penyebutan, Farial mengatakan, mata uang yang terlalu besar juga akan menyusahkan dalam pembukuan. “Bagaimana menghitung uang ribuan triliun APBN, saya rasa tidak akan mampu masuk kalkulator,” katanya.

Demikian juga dengan laba perusahaan-perusahaan besar yang mencapai triliunan rupiah. “Lalu, pinjaman perbankan yang mencapai Rp1 triliun, saya rasa ini terlalu besar nominalnya,” ujar dia.

Karena itu, Bank Indonesia dinilai tepat berencana menyunat tiga digit nominal uang yang ada saat ini. Selain mudah menyebutnya, dia mengatakan, redenominasi juga membuat rupiah berada pada nilai tukar yang normal, tidak terlalu volatile seperti sekarang. “Kalau dipotong tiga digit, pergerakan rupiah hanya pada angka di belakang koma. Ini kan jadi terlihat lebih wajar,” ujar dia.

Redenominasi adalah penyederhanaan penyebutan satuan harga maupun nilai mata uang. Maksudnya, pecahan mata uang disederhanakan tanpa mengurangi nilai dari uang. Nilai mata uang tetap sama meski angka nolnya berkurang. Misalnya, Rp1.000 menjadi Rp1, sedangkan Rp1 juta menjadi Rp1.000.

SUMBER

Analisis Prof. Ross McLeod : Saatnya Memperbaharui Rupiah?

Analisis, Keuangan, Pengetahuan

Rupiah yang sekarang juga sebetulnya, di suatu masa dahulu, adalah ‘rupiah baru’

Dr. Ross McLeod (Private collection of Dr. Ross McLeod)

Saya senang saat membaca kolom Agus Firmansyah di Jakarta Post edisi 19 Mei 2008, yang menyatakan bahwa mungkin sekarang ini saat yang tepat untuk melakukan redenominasi rupiah. Menurut Agus, rupiah adalah salah satu mata uang yang paling rendah nilainya di seantero dunia. Uang kertas dengan nilai terendah yang beredar saat ini adalah Rp1.000, yang kira-kira sekarang ini hanya setara dengan 10 sen AS. Uang logam, apalagi, sudah nyaris tak lagi digunakan. Satu rupiah saat ini hanya bernilai sekitar seperseratus sen dolar AS.

Gagasan dasar di balik penentuan nilai, atau daya beli, dari suatu unit mata uang adalah itu semestinya dapat berguna atau memudahkan pengguna berkaitan dengan skala transaksi yang biasanya berlangsung secara tunai. Apabila mata uang tidak dikelola dengan baik selama kurun waktu yang cukup panjang, sebagaimana yang terjadi pada rupiah selama ini, daya beli dari mata uang itu akan merosot secara signifikan sedemikian rupa sehingga transaksi tunai dalam skala terkecil pun harus dilakukan dengan beberapa ratus unit mata uang.

Ditinjau dari segi hukum, rupiah saat ini, seperti halnya dolar, sebetulnya masih terdiri dari 100 sen. Tapi saya bahkan tak lagi ingat pernah melihat koin sen digunakan dalam proses jual-beli dalam rupiah. Pelanggan Bank Indonesia (warga masyarakat pada umumnya, yang menggunakan mata uang rupiah yang dikeluarkan BI untuk bertransaksi) di masa lampau telah menentukan pilihannya, dengan mengurangi permintaan mereka akan uang sen ke level nol. Dengan itu, maka mereka juga sebetulnya telah mengurangi permintaan akan koin rupiah yang memiliki denominasi rendah hampir ke level nol.

Sebagai editor sebuah jurnal tentang ekonomi Indonesia, saya kerap dibingungkan oleh kecenderungan banyak penulis yang mencatatkan nilai uang dalam rupiah secara terperinci sampai ke digit yang paling kecil, daripada membulatkannya dalam jutaan, miliaran, atau bahkan triliunan. Tidakkah terbayangkan betapa pembaca jurnal akan kecewa jika nilai uang itu ditulis ‘Rp24,2 triliun’ ketimbang nilai yang ‘benar’ seperti Rp24.165.782.534.956 (yang juga seringkali merupakan taksiran saja)?

Sebaliknya: akan jauh lebih mudah untuk melihat sekilas, jika nilai uang itu hanya terdiri dari tiga atau empat digit ketimbang belasan digit atau bahkan lebih (dan sudah barang tentu lebih banyak angka dapat dimuat di satu tabel jika mereka dibulatkan lebih dahulu). Untuk alasan yang sama pula, akan sangat tidak nyaman jika harus melakukan transaksi bernilai rendah dalam bilangan nominal yang sangat besar.

Argumen untuk memperkenalkan ‘rupiah yang baru’ menurut saya cukup meyakinkan. (Rupiah yang ada sekarang juga sebetulnya, di suatu masa lalu bersifat baru, yang diperkenalkan untuk menggantikan rupiah yang lama, yang pernah menjadi hampir tak bernilai gara-gara hiperinflasi pada pertengahan tahun 1960-an.) Ringkasnya, sungguh tidak efisien jika kita harus menghitung dan bertransaksi dalam bilangan jutaan, jika hal itu sebetulnya bisa dengan mudah dilakukan dalam nominal ratusan atau ribuan.

Saya hanya bisa menemukan satu argumen-kontra untuk hal ini: bahwa peluncuran rupiah yang baru akan membingungkan dan mencemaskan warga masyarakat. Sudah barang tentu, jika proses transisi tak dilakukan secara hati-hati, hal itu akan terjadi. Tapi orang tidaklah bodoh. Asal pejabat tinggi pemerintah menerangkan alasan di balikperubahan ini secara teliti dan sabar, saya kira masyarakat akan memahaminya. Mungkin aspek yang paling penting untuk ditekankan ke masyarakat adalah bahwa rupiah yang lama akan dapat ditukarkan untuk rupiah yang baru dengan nilai, katakanlah, 1.000 untuk 1, selama jangka waktu yang cukup panjang. Mungkin juga masuk akal jika uang sen yang baru diluncurkan secara bersamaan.

Akan menarik untuk melihat apakah otoritas moniter serta pemerintah akan menerima saran bermanfaat ini secara serius. Akankah Bank Indonesia sebagai lembaga yang memonopoli penyediaan mata uang mengakui kenyataan, yaitu masyarakat kini hampir tidak lagi memiliki permintaan untuk rupiah dengan nominal rendah, dan secara mubasir harus dibebani untuk berurusan dengan uang kertas rupiah dengan nilai nominal besar bahkan untuk transaksi berskala kecil? * Profesor ekonomi di Australia National University. Kolom ini diterjemahkan dari blog “Time to Renew the Rupiah?” yang dipublikasikan di laman Australia National University, Indonesia Project. Untuk artikel dalam bahasa Inggris, klik di sini

SUMBER