Meningkatkan Pariwisata Indonesia dengan Kebebasan Memotret

Fotografi, Hobi

Indonesia adalah Negeri yang indah. Kalimat itu adalah suatu hal yang tidak bisa disangkal. Banyak sekali ragam budaya dan keindahan alam Indonesia, baik yang sudah terpublish ataupun yang masih tersembunyi yang bisa menimbulkan decak kagum orang orang yang melihatnya.

Sangat banyak objek Pariwisata Indonesia yang menarik untuk dikunjungi oleh Turis, baik dari mancanegara ataupun dari lokal. Karena itu akan sangat dibutuhkan promosi akan berbagai objek pariwisata yang terdapat di Indonesia ini.

Untuk melakukan promosi memang bukan hal yang mudah dan murah. Akan membutuhkan banyak sekali biaya untuk mengangkat kelebihan dan keajaiban dari berbagai daerah terpencil di Indonesia yang berpotensi menjadi objek wisata. Kita juga sudah mengetahui bahwa mengharapkan dana dari pemerintah adalah suatu hal yang sangat sulit, dimana Anggaran pemerintah sendiri sangat terbatas dan belum mengarah kesana.

Walaupun harus disadari dengan meningkatkan pariwisata, akan sangat membantu meningkatkan devisa bagi Indonesia. Kita ambil contoh Thailand yang meningkatkan pariwisatanya untuk meningkatkan pemasukan bagi negerinya.

Untuk itu dibutuhkan keikut sertaan masyarakat. Bagaimana caranya? dengan mengumpulkan uang atau koin? Tidak seperti itu, melainkan menggunakan media Fotografi untuk mempromosikan berbagai wilayah indah indonesia.

Seperti yang telah diketahui, fotografi saat ini menjadi suatu hobby yang sangat banyak peminatnya. Kemajuan teknologi telah membuat banyak orang mencoba profesi fotografer dan mempelajari fotografi lebih dalam. Dari Fotografer amatir maupun profesional berlomba lomba menangkap keindahan alam Indonesia dalam bentuk sebuah karya foto.

Selanjutnya karya foto itu diupload mereka dalam website ataupun forum forum komunitas dalam sebuah media, Internet. Dimana Internet merupakan media yang dapat diakses ataupun dilihat oleh seluruh dunia. Hal ini jelas akan membantu meningkatkan promosi akan alam Indonesia jika digunakan secara baik dan benar.

Namun, dalam mengambil gambar, terkadang para fotografer mengalami berbagai kesulitan. Jika kesulitan dari alam dan lokasi yang sulit dijangkau memang sudah biasa. Tapi yang paling meresahkan adalah gangguan dari berbagai oknum yang mempunyai hobby “memalak” fotografer. Memalak dalam artian meminta biaya untuk memotret.

Suatu hal yang sangat lucu sebenarnya. Karena dalam memotret tidak ada satu pihakpun yang dirugikan. karena memotret sama sekali tidak merusak ataupun mencemari lingkungan. Namun ada saja pihak pihak yang memanfaatkan hal ini dengan meminta sejumlah uang dari fotografer.

Berbagai keluhan seringkali dituliskan dalam berbagai forum fotografi lokal bahkan di Surat Pembaca Kompas beberapa waktu lalu pun keluhan seperti ini dapat dibaca. Tapi sekali lagi tak ada gunanya karena tak ada solusi. Tetap saja pemalakan itu terjadi. Yang lebih menyedihkan, terkadang pemalakan dilakukan oleh oknum keamanan seperti misalnya satpam dari lokasi.

Kesadaran pemerintah Indonesia akan pentingnya promosi pariwisata yang dilakukan para fotografer ini juga belum ada. Padahal kita lihat di Thailand bahkan Singapura, negara tetangga yang tidak jauh dari Indonesia, tidak ada biaya untuk memotret. Fotografer mancanegarapun bebas mengambil gambar disana sehingga promosi pariwisata mereka sangat terbantu.

Untuk itu diharapkan kesadaran pemerintah untuk membuat sebuah Undang Undang yang akan membantu meningkatkan promosi pariwisata kita. Bagaimana bentuknya saya tidak tahu karena bukan bidang saya, tapi mungkin bunyinya kira kira seperti ini :

“Kebebasan seseorang untuk mengambil foto atau merekam gambar atau melakukan pemotretan dimanapun dan kapanpun adalah dilindungi dan dijamin oleh negara, kecuali untuk daerah ataupun kejadian yang dapat digolongkan sebagai rahasia negara.”

Dimana hasilnya jelas akan sangat menguntungkan bagi pariwisata Indonesia. Bantu fotografer dalam mempromosikan Budaya dan keindahan alam kita yang hasilnya akan meningkatkan pariwisata Indonesia.

Mari kita majukan pariwisata kita. Dukung para fotografer dalam mempromosikan keindahan Indonesia.

Perspektif Paksa dalam Fotografi

Fotografi

Perspektif dalam fotografi itu penting sekali, karena akan menambah daya pikat dan keindahan sebuah hasil jepretan. Perspektif umumnya dipahami sebagai hubungan objek yang dijepret dengan tukang jepretnya. Relasi terpenting di sini ialah posisi dan ukuran dan ruang antara objek jepret dan tukang jepret. Dengan kata lain perspektif dalam komposisi fotografi ialah cara bagaimana sebuah objek tiga dimensi dijepret sehingga memiliki dua dimensi datar.

Ketika kita jepret apa pun, kamera kita langsung menghasilkan perspektif. Mungkin karena ini kita jadi ngga peduli lagi mengenai perspektif. Padahal perspektif itu dapat mengubah banyak bahkan menciptakan semacam ilusi sebagai kombinasi dari jarak, ukuran, bentuk, dan sudut jepret.

Ada macam-macam perspektif. Yang paling lazim ialah perspektif linear yang mana jarak dibaca melalui ukuran objek dan sudut pandang mata atau kamera. Perspektif akan berubah bila posisi kamera diubah entah ke sisi kiri  kanan atau mendekat menjauh dari objek. Kamera yang ada zoom dengan gampang mengubah perspektif linear karena walau jarak  kamera dengan objek tetap sama tetapi focal-lengthnya berubah maka ukuran objek pun jadi berbeda.

Perspektif lainnya ialah Perspektifrektalinear.  Apa yang dilihat mata itulah yang disebut perpektif rektalinear. Jadi kalau mainkan zoom atau pakai lensa fisheye atau pakai setting panorama yang mana menghasilkan kelusan dan ukuran objes yang berbeda dengan apa yang dilihat mata, maka sudah bukan lagi perspektif rektalinear.

Perspektif melenyap (vanishing). Perspektif ini paling nyata terlihat bila menjepret jalan yang lurus nan panjang. Akan terlihat di gambar bahwa makin ke ujung sepertinya makin menyempit padahal lebar jalan tetap sama. Begitu juga bila memotret gedung nan tinggi atau pohon nan tinggi dari tanah menghadap tegak lurus ke atas.  Biasanya kamera DSLR atau software editing ada teknik untuk me-normal’kan kembali sehingga sisi kiri kanan tetap sejajar.

Masih banyak perpektif lainnya, seperti Perspektif ketinggian, Perspektif overlaping, Perspektif volume, Perspektif atmosfer, dsb.

Nah ada satu perspektif yang layak diujicoba dan dipraktikan oleh semua  orang yang punya kamera, entah pemula atau profesional, entah pakai kamera pro atau kamera saku, baik saku baju atau saku celana, yaitu Forced Perspective. Terjemahan bebasnya perspektif main paksa.

Apa itu Forced Perspective? Forced perspective ialah suatu teknik jepret dengan memanfaatkan ilusi optis untuk membuat objek yang dijepret entah lebih dekat, lebih jauh, lebih besar, lebih kecil dari yang sebenarnya.

Misalnya jepretan seolah sedang menendang atau menggenggam matahari senja; atau adegan seolah sedang menahan gedung yang hendak tumbang; atau adegan seolah sedang manahan dengan telapak tangan seseorang atau kendaraan, dsb. Semuanya adalah hasil bermain-main dengan jarak dan posisi antara dua atau lebih objek yang dijepret terhadap kamera.

Coba letakkan jari di depan mata, pejam satu mata dan tatap ujung jari kita dan tempatkan ujung jari kita pada sesuatu, misalnya patung, ujung gedung dsb. Itulah perspektif main paksa.

Tentu saja ini hanya teori. Penjelasan panjang lebar tidak berguna, maka yang lebih tepat ialah dengan memperlaihatkan gambar-gambar Forced Perspective.

Teknik Foto Potret

Fotografi

Potret atau Fotografi Potret merupakan seni fotografi yang menarik. Karena pada fotografi potret akan menampilkan obyek manusia, baik secara individual maupun kelompok, yang menonjolkan unsur kepribadian obyek foto tersebut. Yang termasuk foto potret adalah foto orang yang dicintai, foto teman-teman maupun anggota keluarga. Sebuah foto potret akan menampilkan orang dalam bentuk seluruh badan, atau separuh badan (pinggang ke kepala), atau close up yaitu wajah dan bahu saja atau bahkan kepala saja.

Untuk membuat foto berupa potret membutuhkan perencanaan yang baik. Kualitas foto bukan sekadar hasil jepretan kamera saja, namun dapat menampilkan makna dari kepribadian dan ekspresi orang yang ada dalam foto tersebut. Yang perlu diperhatikan tidak hanya subyek foto tersebut, namun juga pencahayaan, latar belakang, set, lokasi, pose, ekspresi muka dan warna. Meski mungkin Anda tidak mampu mengambil foto potret seindah fotografer profesional, namun dengan mempelajari beberapa teknik dasarnya, Anda bisa membuat foto potret sendiri.

Berikut ini beberapa tips dan saran untuk membuat foto potret yang baik.

  • Bagaimana cara membuat seseorang tersenyum di depan kamera?

    Pastikan subyek yang Anda foto dalam kondisi atau mood yang baik untuk difoto. Misalnya Anda ingin membuat foto seorang anak kecil, maka pastikan bahwa ia tidak dalam kondisi lelah atau lapar. Juga pastikan subyek yang Anda foto tidak dalam kondisi lelah karena dapat membuat wajah dan matanya menjadi lebih tegang. Anda dapat memberikan sedikit waktu untuk beristirahat atau menikmati makanan ringan sebelum sesi pemotretan dimulai. Dengan memberi waktu jedah istirahat sambil menikmati cemilan, Anda akan membangun interaksi yang baik dengan subyek foto Anda. Bersikap ramah dan berbicaralah dengannya yang akan membantunya lebih rileks.

    Namun jangan membuat situasi menjadi lucu hingga subyek tersebut tertawa terbahak-bahak. Karena hal ini dapat membuat matanya menjadi juling dan membuat aliran darah di wajah lebih banyak. Cobalah mengambil gambar dengan ekspresi wajah yang berbeda-beda. Semakin banyak foto yang Anda buat, semakin banyak kesempatan memperoleh foto terbaik yang menampilkan karakter orang tersebut.

  • Bagaimana penanganan orang yang menggunakan kacamata?

    Kacamata dapat menimbulkan pantulan cahaya dan membuat silau. Karena itu Anda dapat melihatnya dari viewfinder atau layar LCD kamera Anda, apakah ada pantulan cahaya yang mengganggu. Jika ternyata ada pantulan cahaya di kacamata subyek yang Anda foto, Anda dapat memintanya untuk menggerakkan kepalanya secara perlahan hingga pantulan cahaya tersebut hilang dari titik tengah matanya. Anda juga dapat memintanya sedikit menundukkan kepalanya, namun berhati-hatilah agar tidak terjadi lipatan pada dagunya jika terlalu menunduk.

  • Bagaimana dengan pakaian dan penampilan?

    Jika Anda akan mengambil foto sekelompok orang, perhatikan juga warna pakaian. Gunakan warna yang enak dipandang. Atau Anda dapat juga meminta mereka menggunakan warna yang sama.

    Jika Anda akan mengambil foto seseorang, warna pakaian juga perlu diperhatikan. Jika Anda ingin memfoto seseorang berbadan besar, maka sebaiknya ia menggunakan pakaian berwarna gelap. Sebaliknya jika subyek Anda berbadan kurus atau kecil, maka mintalah ia menggunakan pakaian berwarna terang.

    Lalu pastikan pakaian tidak kusut saat difoto. Jika orang tersebut menggunakan dasi, perhatikan apakah dasinya sudah lurus dan rapi. Lalu pastikan rambutnya telah rapi. Mata Anda mungkin tidak mampu memperhatikan ada helai rambut yang keluar dan mengganggu, namun lensa kamera akan menangkapnya dengan jelas. Lalu jika Anda akan mengambil gambar seorang wanita, Anda dapat memperhatikan make up yang digunakan telah sesuai.

  • Apa yang perlu diperhatikan saat foto outdoor atau di luar ruangan?

    Saat mengambil foto di luar ruangan, perhatikan situasi yang menjadi latar belakang foto tersebut. Pilihlah pohon, bunga, pagar kayu, atau tembok rumah sebagai latar belakang. Jangan mengambil foto dengan latar kegiatan yang sibuk seperti jalan raya, kabel listrik, atau daerah bisnis dan sibuk. Hal ini dapat mengurangi keindahan hasil foto Anda. Ingatlah subyek Anda dalam foto potret adalah orang yang akan Anda foto saja dan bukan latar belakangnya.

  • Apa yang perlu diperhatikan saat foto indoor atau di dalam ruangan?

    Jika Anda mengambil foto di dalam ruangan, Anda bisa mempersilahkan subyek yang Anda foto untuk duduk di kursi atau sofa yang diletakkan di depan sebuah tembok berwarna cerah atau di dekat tanaman indoor

    Anda juga dapat mengatur agar latar belakang foto tersebut menggambarkan pekerjaan dan kegiatan favorit dari subyek yang Anda foto. Misalnya Anda dapat meletakkan meja atau alat jahit sebagai latar belakang.

  • Lensa apa yang cocok untuk foto potret?

    Anda dapat menggunakan lensa antara 105 sampai 150 mm untuk mengambil foto potret. Jika Anda tidak dapat mengganti atau mengatur lensa kamera Anda, misalnya kamera saku (pocket camera), Anda dapat mengatur jarak antara Anda dan subyek yang difoto. Cobalah mendekati atau menjauh dari subyek hingga Anda mendapatkan posisi foto yang paling tepat.

  • Bagaimana komposisi foto yang tepat?

    Anda dapat menyisakan sedikit jarak dari subyek yang Anda foto ke sisi foto tersebut. Jarak ini berguna jika Anda akan membuat bingkai untuk foto tersebut sehingga tidak akan memotong bagian tubuh subyek yang Anda foto.

    Lalu posisikan wajah atau mata dari subyek foto Anda pada area kira-kira sepertiga bagian atas atau samping atau bawah foto Anda. Dalam ilmu fotografi, teknik ini dikenal dengan nama rule of thirds. Anda juga dapat menjadikan mata dari subyek foto di bagian tengah foto Anda.

  • Bagaimana dengan posisi dan sikap dari subyek foto?

    Pastikan subyek yang Anda foto dalam posisi rileks, baik saat berdiri, duduk, atau berbaring. Jika wajahnya terlalu bulat, mintalah subyek foto Anda untuk sedikit memutar kepala atau badannya sehingga hanya sebagian dari wajahnya terkena pencahayaan. Hal ini akan membuat wajahnya lebih ramping.

    Perhatikan posisi tubuh yang lain, seperti tangan dan kaki. Pastikan posisi tubuh dalam posisi alami atau natural. Cobalah agar subyek yang Anda foto memegang sesuatu atau melakukan pose yang alamiah. Jangan biarkan kedua tangan lurus ke bawah di samping tubuh. Hal ini sering dilakukan fotografer pemula namun akan membuat subyek terlihat kaku dalam foto.

  • Bagaimana cara mengambil gambar subyek pasangan?

    Mintalah mereka untuk sedikit memiringkan kepala satu sama lain. Hal ini untuk menghindari kepala mereka sama tinggi. Cobalah menempatkan tinggi hidung salah satu orang pada ketinggian mata orang lainnya.

  • Bagaimana dengan pencahayaan?

    Jika Anda mengambil foto di luar ruangan (outdoor), saat terbaik adalah pada sore hari, karena udara lebih tenang dan warna cahaya terlihat lebih hangat. Hindari cahaya matahari terlalu terik sehingga membuat mata dari subyek foto Anda menjadi sipit karena terlalu silau.

    Jika matahari terlalu terik, posisikan agar matahari menyinari dari belakang subyek foto Anda. Memang hal ini akan menyebabkan wajahnya menjadi gelap karena menjadi bayangan matahari yang menyinari dari belakang. Anda dapat menggunakan flash atau blitz atau lampu kilat untuk menerangi daerah yang menjadi bayangan matahari. Anda juga dapat menggunakan reflector atau yang paling mudah menggunakan white board untuk memantulkan cahaya matahari ke bagian yang menjadi bayangan matahari.

    Jika mengambil gambar di dalam ruangan (indoor), gunakan blitz untuk pencahayaan. Anda juga dapat mengambil gambar di dekat jendela yang memiliki pencahayaan lebih terang. Lakukan ini di daerah yang memiliki tembok berwarna putih atau terang, karena akan memantulkan cahaya dari blitz kamera Anda sehingga lebih memperkuat pencahayaan.

Sekarang Anda sudah siap untuk mengambil foto sahabat, anggota keluarga atau pasangan Anda dengan hasil yang lebih baik bahkan bisa menyamai hasil dari fotografer profesional.

Selamat memotret!